Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beriktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan. Istri beliau Ṣafiyyah -raḍiyallāhu 'anhā- pada suatu malam mengunjunginya, bercengkerama beberapa saat, kemudian beranjak pulang ke rumahnya. Nabi pun beranjak untuk menemani dan mengantarnya pulang. Saat itulah, dua orang lelaki Ansar melintas ditempat itu. Ketika melihat Nabi, mereka mempercepat langkah lantaran sungkan kepada beliau, saat mengetahui ada wanita bersama beliau. Nabi berkata kepada keduanya agar santai saja, maksudnya tidak perlu tergesa-gesa berjalan, karena wanita ini adalah Ṣafiyyah , istrinya. Mereka berdua berujar, 'Subḥānallāh. Apakah mungkin terbersit prasangka buruk kepadamu.' Nabi pun mengabarkan kepada keduanya bahwa setan berupaya untuk menggelincirkan anak Adam, dan dia memiliki kemampuan besar untuk itu. Dia menyusupi mereka melalui aliran darah, begitu halus pintu masuk dan samar tak terlihat jalannya, sehingga beliau khawatir setan membisikkan suatu prasangka ke dalam hati mereka.