Seorang wanita dari Bani Juhainah datang kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam keadaan hamil karena zina. Ia memberitahu beliau bahwa dirinya telah melakukan perbuatan yang mengharuskannya diberi hukuman, untuk itu beliau harus menegakkannya. Lantas Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil wali wanita itu dan memerintahkannya untuk berbuat baik kepadanya. Apabila wanita itu sudah melahirkan, hendaknya wali itu membawa wanita itu kepada Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Selanjutnya pakaian wanita itu dikencangkan dan diikat erat-erat agar tidak tersingkap (terlihat auratnya), setelah itu beliau perintahkan sahabat untuk merajamnya dengan batu sampai meninggal dunia. Selanjutnya beliau menyalatkannya dan mendoakannya dengan doa (umum) untuk mayit. Umar -raḍiyallāhu 'anhu- bertanya kepada beliau, "Apakah engkau menyalatkannya, wahai Rasulullah, padahal ia telah berzina?" Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahukannya bahwa wanita itu sudah melakukan taubat yang luas. Seandainya taubat itu dibagikan kepada tujuhpuluh orang dari penduduk Madinah yang berdosa pasti mencukupi dan bermanfaat bagi mereka. Wanita itu datang dan menyerahkan dirinya demi mendekatkan diri kepada Allah -'Azza wa Jalla- dan mensucikan diri dari dosa zina, apakah ada yang lebih agung dari perbuatan ini?