Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hanya melaksanakan salat sunah di atas kendaraannya ke mana pun kendaraan itu menghadapkan beliau, meskipun tidak ke arah kiblat. Dalam pelaksanaannya beliau senantiasa menggunakan isyarat saat rukuk dan sujud. Beliau tidak memaksakan diri turun dari kendaraannya untuk rukuk, sujud, ataupun menghadap kiblat. Hal ini tidak ada perbedaan apakah yang dilakukan itu salat sunah mutlak, rawatib, ataupun salat-salat sunah yang mempunyai sebab khusus. Namun, beliau tidak pernah melakukan salat fardu dengan cara seperti ini. Rasulullah juga pernah melakukan salat witir di atas untanya.