Tatkala Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya, maka keluarlah dari punggungnya (Adam) setiap orang yang Dia-lah Penciptanya dari anak keturunannya sampai hari Kiamat. Proses usapan-Nya dan keluarnya setiap orang ini adalah secara hakiki, tidak boleh ditakwilkan dengan makna yang merubah makna teks lahirnya sebagaimana dalam mazhab Ahlus Sunah. Ketika Allah mengeluarkan mereka dari punggung Adam, Dia menjadikan di antara kedua mata setiap orang dari mereka kilatan dan kilauan dari cahaya, kemudian Dia menunjukkan mereka kepada Adam, lalu Adam berkata, "Wahai Rabb, siapakah mereka?" Allah -Ta’ālā- berfirman, "Mereka adalah keturunanmu." Lantas dia melihat seorang laki-laki di antara mereka yang kilatan cahaya di antara kedua matanya membuatnya takjub. Lalu ia berkata, "Wahai Rabb-ku, siapakah ini?", Allah -Ta’ālā- berfirman, "Dia Daud." Maka Adam berkata, "Rabb-ku, berapakah Engkau jadikan umurnya?", Kata Allah, "Enam puluh tahun." Adam berkata lagi, "Rabb-ku, tambahkan umurnya dari umurku sebanyak empat puluh tahun." Maka tatkala umur Adam telah habis dan tersisa hanya empat puluh tahun, Malaikat Maut pun mendatanginya untuk mencabut nyawanya. Adam pun berkata, "Sungguh masih tersisa dari umurku empat puluh tahun." Maka Malaikat berkata kepadanya, "Sungguh engkau telah memberikannya kepada putramu Daud." Sungguh Adam telah mengingkari hal itu karena dia (Daud) masih di alam ruh, sehingga ia tidak menyangka kedatangan Malaikat Maut, sehingga anak keturunannya pun mengingkari hal itu. Adam juga lupa, maka anak keturunannya juga lupa, dan Adam melanggar, maka anak keturunannya juga melanggar karena seorang anak pasti menyerupai bapaknya. Adapun Dawud ini, dulu umurnya yang tertulis empat puluh tahun kemudian Allah menjadikannya enam puluh tahun dan Allah Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan apa yang belum terjadi jika ia terjadi; bagaimana keadaannya sebelum terjadi dan setelah terjadi. Dia Maha Mengetahui apa yang Ia tuliskan/tetapkan untuknya dan apa yang Dia tambahkan untuknya setelah itu. Sedangkan para malaikat tidak memiliki ilmu kecuali apa yang telah Allah ajarkan kepada mereka dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya dan setelah terjadinya. Oleh karena itu, para ulama berkata, "Sesungguhnya penghapusan dan penetapan (takdir) terdapat di dalam suhuf (buku catatan) para malaikat, adapun ilmu Allah -Ta’ālā- maka tidak berbeda-beda, dan tidak ada yang tidak diketahui bagi Allah tentang sesuatu yang seolah-olah sebelumnya Dia tidak mengetahuinya, dan dalam ilmu Allah ini tidak ada penghapusan dan tidak ada pula penetapan (setelah dihapuskan).