Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memiliki sebuah mangkuk besar untuk makan yang disebut Al-Garrā`. Mangkuk itu dibawa oleh empat orang. Saat mereka masuk waktu Duha dan setelah selesai shalat Duha, maka mangkuk besar itu dibawa dan roti dileburkan ke dalamnya. Selanjutnya mereka duduk melingkari mangkuk tersebut. Saat mereka sudah banyak dan lingkaran tersebut sempit, Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun duduk di atas kedua lututnya. Beliau duduk di atas punggung kedua kakinya agar memberi ruang untuk saudara-saudaranya. Seorang Arab baduwi yang hadir saat itu berkata, "Duduk macam apa ini, wahai Rasulullah!" karena beliau duduk dengan rendah hati. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menjadikanku hamba yang murah hati dengan kenabian dan ilmu dan Dia tidak menjadikanku hamba yang kejam lagi pembangkang." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bukan orang sombong dan tidak pula lalim. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Makanlah dari sisi-sisinya dan biarkan dulu bagian yang paling atasnya (tengahnya), niscaya ia akan diberkahi." Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan untuk makan dari berbagai sisinya dan meninggalkan bagian atasnya serta beliau menjelaskan bahwa hal itu termasuk sebab keberkahan dalam makanan.