Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta lauk dari istri-istrinya untuk dimakan dengan roti, lalu mereka berkata, “Kami tidak memiliki apa-apa kecuali cuka”. Beliaupun kemudian meminta agar diambilkan untuknya, maka diambilkanlah cuka tersebut dan beliaupun makan dengannya seraya bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka”. Ini adalah sanjungan terhadap cuka. Meskipun cuka itu adalah minuman yang biasa diminum, namun ia juga disebut sebagai makanan; Allah –Ta'ālā- berfirman:, “Siapa meminum airnya, bukanlah pengikutku. Dan siapa tidak memakannya (meminumnya) maka dia adalah pengikutku”. Disebut sebagai makanan karena memiliki rasa yang dapat dikonsumsi.