Dalam perang Uhud, pada awalnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan. Kemudian ketika para pemanah melanggar perintah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka terjadilah suatu kekalahan dan sebagian kaum muslimin kabur meninggalkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga sebagian mereka sampai ke kampung-kampung di dekat sebuah gunung di arah Madinah. Selanjutnya mereka kembali lagi kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, sedangkan saat itu Ḥanẓalah bin Abi 'Āmir sedang berduel dengan Abu Sufyan bin Ḥarb, panglima perang kaum musyrikin dalam pertempuran. Ketika Ḥanẓalah sudah mengalahkannya dan hampir membunuhnya, tiba-tiba seorang lelaki musyrik, yaitu Syaddād bin al-Aswad, melihatnya lalu menebas Ḥanẓalah dengan pedangnya hingga menewaskannya. Ketika perang usai, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu para sahabat bahwa para malaikat memandikan jenazah Ḥanẓalah, dan beliau menyuruh mereka untuk bertanya kepada istri Ḥanẓalah mengenai keadaannya. Mereka pun bertanya kepada istrinya. Ia lalu memberitahu mereka bahwa ketika Ḥanẓalah mendengar seruan jihad, ia pun keluar dalam keadaan junub. Dengan demikian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu mereka bahwa para malaikat telah memandikannya karena dia mati syahid dalam keadaan junub.