Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan kepada kita bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melintasi bangkai anak kambing yang telinganya putus di pasar. "Al-Jadyu" adalah anak kambing. "Asakku" artinya kedua telinganya terputus. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambilnya dan mengangkatnya lalu bersabda, "Apakah ada di antara kalian yang menginginkannya dengan satu dirham?" Mereka menjawab, "Wahai Rasulullah, kami tidak menginginkannya meskipun cuma-cuma." Beliau bersabda, "Apakah ada di antara kalian yang menginginkannya untuk dirinya?" Mereka menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah -Ta'ālā- dari bangkai anak kambing ini." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ingin menjelaskan kepada para sahabatnya dan umatnya setelah mereka bahwa dunia itu lebih hina dan lebih rendah di sisi Allah -Ta'ālā- dari bangkai anak kambing yang kedua telinganya terputus, yang tidak disukai oleh jiwa-jiwa yang sehat. Ini keadaan dunia dibandingkan dengan akhirat. Ia tidak ada harganya di sisi Allah walau seberat sayap nyamuk. Hal ini sebagaimana (dijelaskan) dalam hadis Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Seandainya dunia ini sebanding dengan satu sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau satu teguk air." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bermaksud menganjurkan para sahabatnya dan umat setelahnya agar menjadikan dunia sebagai sarana untuk sampai kepada jalan Allah, bukan sebagai tujuan dan maksud mereka. Sebab, hal itu merupakan kebinasaan bagi mereka.