Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menceritakan sebuah kisah yang terjadi antara dirinya dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tatkala Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bermalam dengannya pada malam gilirannya. Beliau mendatangi tempat tidurnya (setelah kembali dari salat Isya), lalu meletakkan selendangnya dan melepaskan kedua sandalnya, lalu beliau letakkan di samping kakinya, kemudian berbaring. Ketika beliau mengira bahwa aku telah tidur, beliau mengambil selendangnya dengan pelan dan perlahan-lahan agar tidak membangunkanku dan juga memakai sepatunya dengan perlahan, lalu beliau membuka pintu dan keluar, kemudian menutupnya kembali dengan pelan. Sesungguhnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan hal itu secara sembunyi-sembunyi agar tidak membuatnya terbangun dan keluar bahkan mungkin saja menyusul beliau karena takut sendirian dalam kegelapan malam. Lalu Aisyah memakai pakaiannya dan memakai kerudung, kemudian berjalan membuntuti di belakang beliau hingga beliau sampai di Baqi’ yaitu pekuburan di Madinah. Lantas beliau berdiri dan memperlama berdirinya, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya tiga kali sambil berdoa. Kemudian beliau berbalik untuk pulang ke rumahnya. Lalu Aisyah pun berbalik dengan cepat. Kemudian beliau mempercepat jalannya maka Aisyah pun mempercepat jalannya. Kemudian beliau berlari maka Aisyah pun berlari, sehingga Aisyah mendahului beliau. Lalu ia (Aisyah) masuk (ke rumahnya) kemudian langsung berbaring. Kemudian beliau masuk dan berkata, “Ada apa denganmu, wahai 'Āisy? Nafasmu terengah-engah.” Maknanya, engkau ngos-ngosan yaitu nafasmu terengah-engah, yang biasanya terjadi pada orang yang berjalan cepat dan orang yang berkata-kata dengan nada marah berupa meningginya nafas secara bersusul-susulan. Sabda beliau, "rābiyah" yakni perutnya terangkat. Lalu Aisyah menjawab, "Aku tidak apa-apa." Maka beliau berkata, “Kamu yang mesti mengabarkan kepadaku (tentangnya) ataukah Al-Laṭīf (Yang Maha Lembut) lagi Al-Khabīr (Maha Mengetahui) yang akan mengabarkanku?” Lalu dia mengabarkan kepada beliau apa yang telah terjadi. Maka beliau berkata, “Jadi engkau adalah orang yang aku lihat di depanku tadi?” Aisyah menjawab, "Iya." Lalu beliau menekan dada Aisyah dengan telapak tangannya sehingga membuatnya merasa sakit. Beliau lalu berkata, “Apakah engkau kira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan mengkhianatimu?” yakni apakah engkau mengira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan menzalimimu dengan menjadikan giliran malammu yang telah aku bagi untukmu kemudian aku pergi kepada istriku yang lainnya? Aisyah mengatakan, “Bagaimanapun manusia menyembunyikan (sesuatu), maka Allah pasti mengetahuinya? Iya.” Yakni apakah semua yang disembunyikan manusia diketahui oleh Allah? Seakan-akan saat mengucapkan hal ini, ia membenarkan dirinya sendiri sehingga langsung mengatakan, "Iya." Kemudian beliau mengabarinya bahwa Jibril datang dan tidak masuk ke dalam rumah karena Aisyah pada saat itu telah menanggalkan pakaiannya dan bersiap-siap untuk tidur. Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengira bahwa dia (Aisyah) telah tidur dan beliau tidak suka membuatnya terbangun agar dia (Aisyah) tidak takut karena sendirian dalam kegelapan malam. Lantas Jibril berkata kepada beliau, “Sesungguhnya Rabb-mu menyuruhmu datang ke penghuni kuburan Baqi’ agar memintakan ampunan untuk mereka.” Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun pergi melaksanakan perintah ini, lalu beliau mendatangi pekuburan Baqi’, kemudian beliau memintakan ampunan bagi mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Aisyah mengatakan, “Apa yang akan aku katakan untuk mereka, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, Katakanlah, "As-salāmu 'alā ahlid-diyāri minal-mu`minīna wal-Muslimīn, wa yarḥamullāhu al-mustaqdimīna min kum wal-musta`khirīn, wa innā in syā` Allāhu bikum lāḥiqūn" (Keselamatan untuk penghuni tempat tinggal (kuburan) ini, dari kalangan kaum Mukminin dan Muslimin dan semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang akan menyusul kami dan kami insya Allah akan menyusul kalian).”